Acknowledging each others emotional wounds

Tadi pas beli nasi goreng sepulang kerja, gue nemuin ilustrasinya Stephan Schmitz—he’s one of my favorite illustrator—di IG yang merepresentasikan pasangan yang mulai saling mengenali luka emotional dari masa lalu mereka masing-masing. Dan gue mendadak terdiam lama. Suara adukan nasi di kuali panas terdengar samar-samar gak jauh dari tempat duduk gue. Pikiran gue mulai berkelana.

“Mungkinkah gue (seberuntung itu) bisa dapetin pasangan yang, kalo kata salah satu judul di serial Modern Love, ‘take me as I am, whoever I am‘?”

Gue belum tahu jawabannya.

Dapet pasangan yang sefrekuensi itu susah. Mungkin lo bisa aja ketemu sama seseorang yang sesuai kriteria, sosok ideal buat lo, setidaknya dari physical attraction, gaya hidup, finansial, you name it, atau katakanlah mindset—yang terakhir ini jadi poin penentu banget bagi gue memutuskan mau lanjut apa nggak. Tapi tunggu aja setidaknya 100 hari, apakah kalian berdua sama-sama punya growth mindset? Itu aja gak cukup buat mempertahankan sebuah relationship. Masih ada yang namanya ‘sefrekuensi’. Bagian ini susah buat gue jelasin. Pada intinya, you just know he or she is the one, and feel click.

Jika dia suka sama kita dan begitu juga sebaliknya, itu satu hal. Tapi apakah kemudian dia jadi orang yang tepat untuk menjadi pasangan kita sehidup semati, it’s another level. Dan itu menjadi PR bersama. Emang sih, gak ada orang yang sempurna. Perfect, by definition, fit into your criteria. Karena kitanya sendiri juga gak sempurna. Gue apa lagi, yang masih suka insecure dalam beberapa hal.

Karena nyari yang mindset-nya sebelas dua belas (kalo emang gak bisa sama) dan yang sefrekuensi ini bikin orang-orang kadang bilang gue itu terlalu pemilih. Like what? What’s wrong with yearning a man who has basic generosity and humanity and growth mindset?

I have my own happiness. I build my own happiness to death, I worked hard on it. Terus kalo pasangan lo hadir di hidup lo justru malah merusak kebahagiaan yang udah susah payah lo bangun itu, dalam hal-hal basic aja misalnya. Bisa bayangin? Apa iya kita harus ngorbanin sesuatu demi mempertahankan orang yang bakal merusak kebahagiaan kita?

Well, itu cuma pembelaan gue soal anggapan ‘picky’ dalam mencari pasangan. Kita balik lagi aja ke ilustrasinya Stephan Schmitz yang mindblowing itu, se-powerful itu bisa bikin orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk hariannya dan meninggalkan kesan yang sedih tapi juga penuh harap dan hangat.

Dalam menjalin hubungan, pasti ada aja momen di mana kita menemukan sifat yang gak kita sukai dari pasangan. Yang bikin lo teriak, “ya Tuhan, gue gak tahan kalo gini caranya!”. Atau karena ketakutan-ketakutan lo untuk gak pengen hal-hal buruk yang pernah lo liat dari orang tua lo misalnya, terjadi juga di hubungan lo dan pasangan, akhirnya lo pengen cabut aja. Pengen udahan aja.

Padahal, karena ilustrasi ini gue jadi bisa terpikir hal ini, padahal bisa jadi respon seseorang terhadap suatu hal, yang mana ini termasuk sifatnya, adalah produk trauma masa lalunya. Dan seringkali, dampaknya memang negatif, seperti emosi-emosi negatif itu, yang kebanyakan orang juga gak suka. So, apakah kita punya ruang empati untuk itu? Sebagai pasangan, apakah satu sama lain punya kapasitas untuk berempati dalam hal itu? Apakah gue bisa kayak gitu ke pasangan gue dan juga sebaliknya?

Gue rasa ini sesuatu yang ideal banget dalam sebuah hubungan, ketika masing-masing bisa mengenali ‘emotional wounds from the past‘ dari pasangannya. Mereka mengkomunikasikannya bareng-bareng, terus jadi ngerti satu sama lain, jadi paham gimana harus nge-handle-nya jika suatu kali terjadi lagi. Terus berusaha lebih baik lagi bareng-bareng. I think, that is love...

Bisa nggak ya ini terjadi dalam relationship gue, suatu hari nanti?

Dan, air mata gue mulai jatuh. “Tiga belas ribu, mbak”. Kata Si Abang nasi goreng. []

3 responses to “Acknowledging each others emotional wounds”

  1. Ilustrasinya bagus menggambarkan sekali.
    Nggak bisa bergantung pada penerimaan orang lain karena orang lain juga ada wound. Better memang mengobati dulu sendiri. Anyway blogwalking salam kenal yaa

    Like

  2. “…esuatu yang ideal banget dalam sebuah hubungan, ketika masing-masing bisa mengenali ‘emotional wounds from the past‘ dari pasangannya.” suka banget dengan catatan ini, Kak.

    Sudah menjadi bagian dari tugas masing-masing individu dalam menjalin hubungan ya Kak.

    Liked by 1 person

  3. Nyari yg sefrekuensi memang yg susah, kalo cocok doang mah manusia jga ngga ada yg 100% cocok. Buktinya sama orang tua aja masih suka cekcok begimana sama pasangan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: