Hari minggu dan buku Philippa Perry

Baiklah gue akan mengeluarkan isi kepala apapun isinya. Gue susah memulai tulisan karena terlalu banyak konsep yang mau dipaksain jadi satu tulisan. Satu kali merasa pengen nulis catatan perjalanan yang vibenya kayak tulisan-tulisan mas Teddy (pendiri postbookshop) di blog The Dusty Sneaker. Hangat, sederhana namun magis, dan ada sedikit komedinya. Di saat yang bersamaan gue juga pengen nulis esai. Ide-ide random yang berkelebat selama sepekan terakhir perlu dijahit jadi bentuk yang komprehensif dalam esai. Mungkin seperti esainya Desi Anwar atau seperti esai-esai dalam buku Insomniac City.

Tapi sekarang mungkin gue lebih ingin nulis catatan perjalanan karena baru aja selesai baca ulang beberapa tulisan di The Dusty Sneaker dan merasa terinspirasi. Inspirasinya masih segar. Tapi karena gue nggak pernah sama sekali melakukan perjalanan, gue mau mencoba nulis keseharian gue: di kos, di kantor, atau selama perjalanan pulang pergi ke kantor.

Mari kita mulai dengan cerita hari Minggu lalu, 18 Juli 2021.

Gue bangun kesiangan jam 9 pagi dengan perasaan yang sama seperti hari lainnya: kekesalan tak pernah bisa bangun jam 5 pagi meskipun alarm berbunyi. Padahal tiap malam sebelum tidur, gue selalu punya rencana untuk baca buku setidaknya satu jam, entah diselingi dengan beberapa kegiatan produktif lain atau tepat sebelum mandi dan pada akhirnya berangkat kerja. Tapi kemarin libur. Jadi, minus kekhawatiran telat ngantor.

Illustration by Giselle Dekel

Bangun tidur ini selalu diikuti tubuh yang terasa pegal sana-sini. Mungkin ini termasuk gejala yang tersisa setelah sembuh dari covid 2 minggu lalu. Gue merasa sering kelelahan, juga nyeri sendi. Dari beberapa artikel yang gue baca, itu memang gejala yang terasa meskipun sudah sembuh dan butuh waktu yang cukup lama untuk kembali pulih 100%. Terus akhirnya gue ngomong ke diri sendiri, bear with it, life goes on.

Anyway, gue angkat diri dari kasur tipis gue. Melipat selimut, menepuk-nepuk kasur, lalu mengangkatnya sampai nempel di dinding kamar berukuran 2,5 m x 2,5 m ini. Ritual bangun tidur gue. Kamar ini sempit sehingga gue perlu melakukan ini untuk membuatnya terasa luas. Kosan ini 3 lantai. Tiap lantai ada 3 lorong. Tiap lorong ada 10 kamar. Ruang berkumpul ada di depan, cukup luas dan dilengkapi TV. Kamarnya saja yang memang sempit begini, tapi termaafkan dengan ruang sosialisasi di depan. Gue jadi nggak pernah merasa lonely. Kalau lagi suntuk, pengen ngobrol dan mendapatkan sebuah kebijaksanaan baru, tinggal ke depan lalu duduk-duduk main hp atau baca buku dan kalo ada yang lewat, ajakin ngobrol.

Kemarin nggak banyak rencana. Gue cuma pengen baca buku, makan, dan tidur. Termasuk membuat tulisan ini. Keempat hal ini saja merupakan sebuah kemewahan bagi seorang pekerja digital agency kayak gue. Yang paling lo rindukan setelah 5 hari olah pikir (kerja) itu cuman tidur. Asli. Atau punya waktu lebih banyak untuk membaca buku favorit lo. Makanya kadang-kadang kalo ada yang ngajakin keluar (sebelum PPKM Darurat) atau ada yang telpon atau ngajakin chat, gue rada males. Emang gak mau ngomong sama siapa-siapa. Online maupun offline. Freak sih. What a recluse girl! Tapi dimaklumi aja lah untuk sementara, sobat.

“Pantes lu jomblo terus,” setan pun berkata dengan tawanya yang meledek itu.

Jangan dengarkan setan itu. Sudahlah, lain kali saja kita bicara tentang kejombloan ini.

Gue cukup senang karena dari jam 10 pagi sampai 4 sore gue habiskan dengan membaca tiga perempat buku The Book You Wish Your Parents Had Read yang ditulis Philippa Perry, seorang psikoterapis kenamaan di UK. Buku itu gue beli di toko buku Periplus, Mall Kelapa Gading. Tentang memperbaiki atau memutus lingkaran hubungan tak sehat antara orang tua dan anak.

Sabtu malam lalu gue juga baca buku ini. Membacanya di antara jemuran sambil memandangi bulan separuh di sebelah kanan atas sana. Teh poci tinggal separuh. Desingan mesin AC outdoor terdengar samar. Sesekali suara gurauan penghuni lantai 3 pun tipis-tipis sampai di telinga. Juga ada Pungky yang lagi latihan gitar di ruang TV. Omong-omong, gue pengen juga diajari gitar oleh anak itu. Nanti, suatu hari.

“Ini bagus ga, kak? Aku masukin ini ke wishlist, karena menarik gitu judulnya,” kata Sifa lewat pesan langsung Instagram setelah gue memposting foto halaman 192 dari buku itu di Instastory.

“Bagus,” balas gue. “Mungkin juga akan disukai oleh pembaca yang sedang mencari jawaban tentang kenapa hubungan dengan orang tuanya terasa aneh atau yang selama ini ngerasa selalu disalahpahami, sulit mengartikulasikan perasaan, dll. Semuanya dipengaruhi dari cara kita dibesarkan, bagaimana komunikasi orang tua di awal masa perkembangan anak. Itu semua akan membentuk pola, natur, hingga sifat-sifat yang dibawa hingga dewasa.”

Gue juga bilang, membacanya bikin kita mengingat-ingat lagi masa kecil kita dan perjalanan kita sampe di usia sekarang. Emosi yang selama ini kita sembunyikan, kita tekan, akhirnya ada yg mengerti dan itu valid. Dari situ penulis justru membuat pembacanya bisa merenungkan opsi apa saja yang bisa jadi pemecahan masalah yang dihadapi selama ini.

Kalau kalian pernah baca postingan gue yang ini dan ini, mungkin kalian langsung tahu alasan kenapa gue beli buku ini tanpa gue jelasin lagi sekarang. Gue (dan tentu saja kita semua) mengalami beberapa kerumitan dalam hidup. Dan kita sama-sama sedang berjuang mengatasinya. Dalam hidup gue, salah satu kerumitan itu adalah hubungan gue dengan ortu. Entah ini yang ke berapa kali, gue menyebut perihal ini.

Gue jadi ingat kata salah satu teman. “Kalau kita sering menceritakan kejadian kurang menyenangkan, it’s a sign of unfinished business.” Mungkin saja teman gue itu benar, dan mungkin juga enggak karena gue gak bisa menemukan alasan saintifis soal ini di internet. Tapi gue rasa pernyataan teman gue itu mangandung kebenaran beberapa persen. Mungkin saja tindakan itu adalah cara kita mengartikulasikan ulang emosi-emosi atau perasaan-perasaan tak bernama yang selama ini kita rasakan, sampai benar-benar ketemu kata yang mewakili emosi dan perasaan itu.

Dan di buku ini akhirnya gue menemukan jawaban yang membuat beberapa hal jadi masuk akal. Betapa pentingnya menamai perasaan (emosi) kita. Jika orang tua biasanya suka denial terhadap emosi anaknya, menekan perasaan mereka, anak-anak akan tumbuh kesulitan menamai perasaan mereka sehingga kebingungan bagaimana mengatasi emosi tersebut. Mereka jadinya nggak belajar bagaimana mengelola emosi mereka. Ini membawa kepada perilaku tantrum atau pada tingkat yang lebih parah, serangan kecemasan.

Anyway, yang bisa gue jahit dari situ adalah: mungkin dengan menceritakan suatu kerumitan dalam hidup kita, berulang kali, dan unintentionally, sebenarnya adalah upaya kita untuk memahami apa yang terjadi. Membantu kita mencapai pemahaman baru tentang kejadian itu dan bagaimana hal itu memengaruhi hidup kita. Tapi karena nggak semua orang mau mendengarkan cerita yang sama berkali-kali, cara teraman untuk melakukannya adalah lewat expressive writing, atau kalau punya cukup dana, cari bantuan profesional: ke psikolog atau psikoterapis.

“Wahhhh keren kakk. Aku jadi makin tertarik buat membacanya,” tutup Sifa.

Jadi ingat lagi dengan cuitan seorang dokter (namanya lupa) di Twitter. Bahwa sebagian besar orang-orang emang punya parental issues, dan ini mempengaruhi kehidupan percintaannya atau hubungannya dengan siapapun. So for those of you who are struggling right now, or on breaking the cycle, let’s pat each others back.

000

4 Replies to “Hari minggu dan buku Philippa Perry”

  1. Enak banget baca tulisannya, selalu pengin bisa nulis sengalir ini…
    Anyway, in my case.. i really dont have any relationship issue with my parents, tapi mungkin aku sekarang ada pada posisi dimana ingin banget bikin orangtua seneng tapi blm bisa, msh struggle sama kondisi hidup sendiri.

    Seringkali karena kita terlalu sibuk melihat pertumbuhan kita sendiri, kita jadi lupa kalo orangtua kita juga tumbuh menua.

    Sekarang bapakku 72 tahun, keriput dan uban sudah mendominasi penampakannya. Begitupun ibuku, and what hurts me is i can make them proud, dan itulah perasaan yg selalu menghantuiku sebagai seorang anak meskipun mereka tak pernah sekalipun menuntut apa-apa (kecuali mamah yang pgn aku jd pns) hehe…

    Terima kasih sofia untuk tulisannya, looking forward to read your next story, i love it!

    Like

    1. Semangat mas Ady, hidup itu emang nggak selalu bisa sempurna atau sesuai kondisi ideal yang kita bayangkan. But, don’t worry, we got this! Doaku buat papa mama mas Ady dan kalian sekeluarga tetap sehat dan bahagia. Makasih ya sudah mampir baca. 🙂

      Like

  2. Hi, aku lagi blogwalking dan “nyasar” ke sini. Very well-written btw, dan aku udah dari lama pengen baca buku itu tapi belum sempet aja hehe. Anyhow, aku dan ortuku punya hubungan yang cukup complicated, and it took me two decades to be able to admit that. Sejak sekitar dua bulanan yang lalu, untuk pertama kalinya aku bisa admit hal itu dan mulai seeking for professional help. Aku setuju kalo writing membantu banget, that’s also what my counsellor suggested kalau aku memang gamau melibatkan any form of confrontation. Whatever your struggle is, I hope you find your way to overcome those! On another note, this is such a cool blog. Salam kenal yaa!

    Like

    1. Hi Nabilah! 👋🏻 Wah, iya bener, expressive writing itu sangat membantu kita buat make sense of this world. By the way, makasih udah baca ya, salam kenal. 😊 Juga aku izin taruh link blog kamu di halaman blogger favorit aku yaa. See you on your next blog post! 🤗

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: